Tanda-Tanda, Proses, Aspek, dan Permasalahan Tumbuh Kembang Anak
BAB
I
PENDAHULUAN
A Latar
Belakang
Anak memiliki ciri yang sangat khas,
yaitu senantiasa tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhir masa
remaja. Hal inlah yang membedakan anak dengan orang dewasa. Pertumbuhan terjadi
secara simultan dengan perkembangan sehingga pada anak-anak proses tersebut
dikenal dengan sebutan tumbuh kembang anak. proses tumbuh kembang anak
berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan berkesinambungan.
Walaupun
pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, seorang
anak dalam banyak hal bergantung kepada orang dewasa, misalnya mengenai makan,
perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dan sebagainya. Oleh
karena itu semua orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus mengerti
persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang, misalnya keperluan dan
lingkungan anak pada waktu tertentu agar anak dapat tumbuh dan berkembang
sebaik-baiknya.
Periode
penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa
ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan
anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas,
kesadaran sosial, kesadaran emosional dan inteligensia berjalan sangat cepat.
Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara
anak dengan orang tuanya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial
diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan. Untuk
itu penting bagi kita sebagai pendidik untuk mengetahui perkembangan dan
pertumbuhan pada anak. Sehingga, diharapkan nantinya dapat menstimulasi seluruh
aspek perkembangan anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan
dan perkembangan?
2. Apa saja aspek tumbuh kembang pada
anak usia dini?
3. Bagaimana tahapan tumbuh kembang
anak usia dini?
4. Faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada anak?
5. Permasalahan apa saja yang ada dalam
tubuh kembang anak?
C. Tujuan dan Manfaat Pembahasan
Adapun
tujuan Tujuan dari pembahasan makalah ini
adalah untuk mengkaji secara mendalam mengenai pertumbuhan dan perkembangan pada
anak usia dini, serta bagaimana penerapannya di lembaga pendidikan anak usia
dini. Sedangkan, manfaat dari pembahasan materi ini
adalah untuk:
1. Mangetahui hakikat pertumbuhan dan
perkembangan;
2. Mengetahui aspek-aspek pertumbuhan
dan perkembangan pada anak usia dini;
3. Mengetahui tahapan tumbuh kembang
pada anak;
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan pada anak; serta
5. Mengetahui berbagai macam
permasalahan tumbuh kembang pada anak.
D. Metode
Pembahasan
Metode
yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif
dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masaalah yang diselidiki dengan
menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat
sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Nawawi,
2005:7).
Metode
ini digunakan untuk membahas pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Di
sini kami mendeskripsikan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini
berdasarkan pendapat para ahli dari beberapa sumber.
BAB
II
ISI
A. Pengertian
Pertumbuhan dan Perkembangan
Terdapat
perbedaan pengertian antara pertumbuhan dan perkembangandalam proses tumbuh
kembang anak. pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta
jaringan antarsel, yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh
sebagian atau keseluruhan hingga dapat diukur dengan satuan panjang atau berat.
Jadi,
pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan
ukuran dan struktur biologis.
Sedangkan, perkembangan
adalah suatau proses perubahan secara berurutan dan progresif yang terjadi
sebagai akibat kematangan dan pengalaman yang berlangsung sejak terjadinya konsepsi
sampai meninggal dunia. Istilah perkembangan secara khusus diartikan sebagai
perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang menyangkut
aspek-aspek mental psikologis manusia. Pertumbuhan terjadi secara simultan
dengan perkembangan, di mana pada saat bertambahnya umur bukan hanya bertambah
berat dan tinggi, akan tetapi disertai pula dengan perubahan fungsi, misalnya
perkembangan intelegensi pada anak.
Pertumbuhan
dapat diketahui dengan mengukur berat badan, panjang badan/tinggi badan,
linngkar kepala dan lingkar lengan atas. Sedangkan untuk menilai perkembangan
anak, banyak instrumen yang dapat digunakan. Salah satu instrumen skrining yang
dipakai secara internasional untuk menilai perkembangan anak adalah DDST II (Denver
Development Screening Test). DDST II merupakan alat untuk menemukan secara
dini masalah penyimpangan perkembangan anak umur 0 s/d < 6 tahun.
Menurut Pedoman Pemantauan Perkembangan Denver
II (Subbagian Tumbuh Kembang Ilmu Kesehatan Anak RS Sardjito, 2004), formulir
tes DDST II berisi 125 item yang terdiri dari 4 sektor, yaitu: personal sosial,
motorik halus-adaptif, bahasa, serta motorik kasar. Sektor personal sosial
meliputi komponen penilaian yang berkaitan dengan kemampuan penyesuaian diri
anak di masyarakat dan kemampuan memenuhi kebutuhan pribadi anak. Sektor
motorik halus-adaptif berisi kemampuan anak dalam hal koordinasi mata-tangan,
memainkan dan menggunakan benda-benda kecil serta pemecahan masalah. Sektor
bahasa meliputi kemampuan mendengar, mengerti, dan menggunakan bahasa. Sektor
motorik kasar terdiri dari penilaian kemampuan duduk, jalan, dan gerakan-gerakan
umum otot besar. Selain keempat sektor tersebut, itu perilaku anak juga dinilai
secara umum untuk memperoleh taksiran kasar bagaimana seorang anak menggunakan
kemampuannya.
B. Aspek-aspek Tumbuh
Kembang Anak
Ada enam aspek tumbuh kembang pada anak usia
dini yang harus kita kembangkan secara optimal. Keenam aspek tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Aspek Motorik Kasar
Adalah kemampuan
anak untuk mengontrol gerakan tubuh yang mencakup geraka gerakan otot besar.
Perkembangan motorik kasar dapat dilihat dari kemampuan anak untuk merangkak,
berjalan, berlari, melompat, memanjat, berguling, berenang dan sebagainya.
2. Aspek Motorik Halus
Adalah kemampuan
anak untuk mengontrol keluwesan jemari tangan yang dapat dilihat dari kemampuan
untuk menyentuh, menjumput, meraih, mencoret, melipat, memasukan benda atau
makanan ke dalam mulut dan sebagainya.
3. Aspek Kognitif
Adalah kemampuan
anak untuk memproses, menginterpretasikan dan mengkategorikan
informas-informasi yang diperolehnya melalui panca indera. Kemampuan ini
selanjutnya berkembang menjadi kemampuan berfikir logis yang selanjutnya
menentukan apakah anak mampu memahami lingkungannya.
4. Kemampuan Bahasa
Sebagai mahluk
sosial, sejak bayi anak telah bisa berkomunikasi untuk menyatakan perasaan dan keinginannya,
yaitu dengan tangisan, tertawa dan mengoceh yang merupakan awal dari
perkembangan bahasa. Selanjutnya anak akan belajar untuk mengembangkan
kemampuan berkomunikasi dengan bahasa. Kemampuan bahasa selain membantu anak
untuk memahami apa yang dikatakan orang-orang disekitarnya, juga untuk dapat
dipahami oleh orang lain. Perasaan mampu memahami dan dipahami dapat
menumbuhkan rasa percaya diri.
5. Aspek Emosi
Adalah kemampuan
anak untuk mengenali berbagai hal yang dirasakannya, mengekspresikan perasaan
dalam bentuk yang dapat diterima oleh lingkungannya, serta kemampuan untuk
mengendalikan dan mengatasi perasaannya. Kematangan emosi tidak terjadi dengan
sendirinya tapi secara bertahap dan sangat membutuhkan peran serta orang tua
dan lingkungan sosial.
6. Aspek Sosial
Adalah kemampuan
anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memberi respon pada orang
lain dan berbagi. Pengalaman sosial anak hanya dapat tumbuh dan berkembang dari
pengalamannya dengan orang-orang terdekat. Pola asuhan dan arahan orang tua
sangat penting dalam perkembangan aspek
sosial anak.
C. Tahapan Tumbuh Kembang Anak Usia 0-6 Tahun
1.
Masa Pralahir
Masa pralahir (saat dalam kandungan)
adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat
ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme
yang lengkap dengan otak dan kemampuan berperilaku, dihasilkan dalam waktu
Iebih kurang sembilan bulan. Masa pralahir terbagi dalam tiga periode yaitu :
a.
Masa zigot, yaitu sejak saat konsepsi (pembuahan)
sampai umur kehamilan 2 minggu.
b.
Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu
sampai 8 minggu. Pada masa ini ovum (sel telur) yang telah dibuahi dengan cepat
akan menjadi suatu organism. Terjadi suatu proses yang berlangsung dengan cepat
dalam pembentukan system organ dalam tunuh.
c.
Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9 minggu
sampai akhir kehamilan. Masa ini terdiri dari 2 periode, yaitu sebagai berikut:
1)
Masa fetus dini, yaitu sejak kehamilan 9 minggu
sampai trimester kedua kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan
pertumbuhan, menuju pembentukan jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah
berbentuk serta mulai berfungsi.
2)
Masa fetus lanjut, yaitu trimester akhir
kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembanagn
fungsi.
Periode yang paling
penting dalam masa pralahir adalah trimester pertama kehamilan. Pada periode
ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap pengaruh lingkungan. Gizi
kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok, minuman beralkohol,
obat-obatan, pola asuh, depresi berat, beban psikologis perpengaruh terhadap
pertumbuhan janin dan kehamilan.
2.
Masa Pascalahir
Pertumbuhan dan perkembangan badan anak setelah
dilahirkan berkembang pesat. Perkembangan badan anak disebabkan kemampuan
alat-alat pencernaannya yang sudah dapat
menyerap zat-zat makanan. Setelah dilahirkan, proses tumbuh kembang anak
terbagi menjadi 3 periode yakni sebagai berikut:
a.
Masa bayi, yaitu sejak
kelahiran sampai usia 11 bulan
Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yakni masa neonatal (usia 0-28 hari)
dan usia 29 hari-12 bulan.
1)
Masa Neonatal (0-28
hari)
Tumbuh kembang masa
pascalahir diawali dengan masa neonatal, yaitu dimana terjadinya kehidupan yang
baru. Pada masa ini terjadi proses adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi
perubahan sirkulasi darah, serta semua fungsi organ, dimulai dari aktifitas
pernafasan, pertukaran gas dengan frekuensi pernapasan antara 35-50 kali
permenit, penyesuaian denyut jantung antara 120-160 kali permenit, perubahan
ukuran jantung menjadi lebih besar di bandingkan dengan rongga dada, kemudian
gerakan bayi mulai meningkat untuk memenuhi kebutuhan gizi.
2)
Masa Bayi (29 hari – 1
tahun)
Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan
berlangsung secara terus-menerus terutama meningkatnya fungsi system syaraf.
Pada masa ini, bayi memerlukan pemeliharaan kesehatan, seperti pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan penuh, diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI
yang sesuai dengan usianya, pemberian imunisasi sesuai jadwal, serta pemberian
pola asuh yang sesuai.
Pada masa bayi, tahap tumbuh kembang dapat
dikelompokkan menjadi 3 tahap yaitu :
a)
Usia 1-4 bulan, tumbuh kembang pada
tahap ini diawali dengan perubahan berat badan. Bila gizi anak baik, maka
perkiraan berat badan akan mencapai 700-1000 g/bulan. Pertumbuhan tinggi badan
agak stabil, tidak mengalami kecepatan dalam pertumbuhan tinggi badan.
b)
Usia 4-8 bulan, pertumbuhan pada usia
ini ditandai dengan perubahan berat benda pada waktu lahir. Rata-rata kenaikan
berat benda adalah 500-600 g/bulan, apabila mendapatkan gizi yang baik.
Sedangkan pertumbuhan tinggi badan tidak mengalami kecepatan dan stabil berdasarkan
pertambahan umur.
c)
Usia 8-12 bulan, pada usia ini
pertumbuhan berat badan dapat mencapai tiga kali berat badan lahir, pertambahan
berat badan perbulan sekitar 350-450 gram pada usia 7-9 bulan, 250-350 gram
pada usia 10-12 bulan, bila memperoleh gizi baik. Pertumbuhan tinggi badan
sekitar 1,5 kali tinggi badan pada saat lahir. Pada usia 1 tahun, pertambahan
tinggi badan masih stabil dan diperkirakan mencapai 75 cm.
b.
Masa anak di bawah lima tahun ( usia 12-59
bulan)
Pada masa ini, kecepatan
pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik
(gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi (pembuangan). Periode
penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita karena akan mempengaruhi
dan menentukan perkembangan selanjutnya. setelah lahir terutama 3 tahun pertama
kehidupannya, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel oatak masih berlangsung, dan
terjadi pertumbuhan serabut-serabut saraf dan cabang-cabangnya. Sehingga
terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan
hubungan-hubungan antarsel saraf ini akan sangat mempengaruhi kinerja otak,
mulai dari kemampuan belajar, berjalan, berbicara dan bersosialisasi. Berikut
ini akan dijelaskan secara rinci pertumbuhan dan perkembangan anak balita.
1)
Masa anak usia 1-2 tahun
Pada masa ini, anak akan
mengalami beberapa perlambatan dalam pertumbuhan fisik. Pada tahun kedua, anak
hanya mengalami kenaikan berat badan sekitar 1,5 – 2,5 kg dan penambahan tinggi
badan 6-10 cm. Pertumbuhan otak juga akan mengalami perlambatan, kenaikan
lingkar kepala hanya 2 cm. untuk pertumbuhan gigi, terdapat tambahan 8 buah
gigi susu, termasuk gigi geraham pertama dan gigi taring, sehingga seluruhnya
berjumlah 14-16 buah. Pada usia 2 tahun, pertumbuhan fisik berat badan sudah
mencapai 4x berat badan lahir dan tinggi badan sudah mencapai 50 persen tinggi
badan orang dewasa. Menginjak usia 3 tahun, rata-rata berat badan naik menjadi
2-3 kg/tahun, tinggi badan naik 6-8 cm/tahun, dan lingkar kepala menjadi
sekitar 50 cm.
2)
Masa anak usia 3-5tahun
Pada masa ini, berat
badan mengalami kenaikan rata-rata 2kg/tahun. Tubuh anak terlihat kurus, akan
tetapi aktivitas motorik tinggi dan sistem tubuh mencapai kematangan dalam hal
berjalan, melompat, dan lain-lain. Tinggi badan bertambah rata-rata 6,75 – 7,5
cm setiap tahun. Pada masa ini anak mengalami proses perubahan pola makan,
umumnya mengalami kesulitan untuk makan. Anak juga mulai menunjukkan
kemandirian pada proses eliminasi.
c.
Masa anak prasekolah
Pada masa ini, anak
sudah mulai berkenalan dengan lingkungan di luar rumah, ia mulai senang bermain
di luar rumah dan memiliki teman. Lingkungan tersebut harus dapat menciptakan
suasana bermain yang bersahabat bagi anak
(child
friendly environment). Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah
sehingga seluruh panca indra dan system penerimaan rangsangan serta proses
memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Orang-orang di
lingkungan anak harus dapat memantau proses tumbuh kembangnya. Hal ini
dilakukan agar dapat melakukan intervensi dini apabila terjadi kelainan dan
gangguan.
D. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
Banyak
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara garis besar faktor-faktor
tersebut dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu faktor dalam (internal) dan
faktor luar (eksternal/lingkungan).
Pertumbuhan
dan perkembangan merupakan hasil interaksi dua faktor tersebut. Faktor internal
terdiri dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin,
kelainan genetik, dan kelainan kromosom. Anak yang terlahir dari suatu ras tertentu,
misalnya ras Eropa mempunyai ukuran tungkai yang lebih panjang daripada ras
Mongol. Wanita lebih
cepat dewasa dibanding laki-laki. Pada masa pubertas wanita umumnya tumbuh
lebih cepat daripada laki-laki, kemudian setelah melewati masa pubertas sebalinya
laki-laki akan tumbuh lebih cepat. Adanya suatu kelainan genetik dan kromosom dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti yang terlihat pada anak
yang menderita Sindroma Down. Selain faktor internal, faktor
eksternal/lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Contoh faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak adalah gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial ekonomi.
Gizi
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak.
Sebelum lahir, anak tergantung pada zat gizi yang terdapat dalam darah ibu.
Setelah lahir, anak tergantung pada tersedianya bahan makanan dan kemampuan
saluran cerna. Hasil penelitian tentang pertumbuhan anak Indonesia (Sunawang,
2002) menunjukkan bahwa kegagalan pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia
6-18 bulan. Penyebab gagal tumbuh tersebut adalah keadaan gizi ibu selama
hamil, pola makan bayi yang salah, dan penyakit infeksi.
Perkembangan
anak juga dipengaruhi oleh stimulasi dan psikologis. Rangsangan/stimulasi
khususnya dalam keluarga, misalnya dengan penyediaan alat mainan, sosialisasi
anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain akan mempengaruhi anak dlam
mencapai perkembangan yang optimal. Seorang anak yang keberadaannya tidak dikehendaki
oleh orang tua atau yang selalu merasa tertekan akan mengalami hambatan di dalam
pertumbuhan dan perkembangan.
Faktor
lain yang tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan anak adalah
faktor sosial ekonomi. Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang jelek, serta kurangnya pengetahuan. (Tanuwijaya, 2003).
Gangguan
emosional, anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan
terbentuknya steroid adrenal yang
berlebihan sehingga akan menyebabkan berkurangnya pembentukan hormone
pertumbuhan di kelenjar pituitary.
Fungsi
endokrin (kematangan), bila fungsi endokrin bekerja normal maka akan
memperlihatkan ukuran tubuh yang normal, sebaliknya anak yang mengalami
kekurangan hormone pertumbuhannya maka ia akan menjadi kecil. Sedangkan anak
yang kelebihan hormone pertumbuhannya maka ia akan menjadi terlalu besar
sehingga tidak sesuai dengan anak sebayanya.
Pengaruh
pralahir, kondisi pralahir yang tidak menguntungkan selama ibu hamil, seperti:
perokok berat, kurang gizi, tekanan batin cenderung menghambat pertumbuhan dan
perkembangan pascalahir.
E. Permasalahan
Tumbuh Kembang Anak
Masalah
yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi gangguan
pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku.
1. Gangguan
Pertumbuhan Fisik
Gangguan pertumbuhan fisik meliputi
gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan pertumbuhan di bawah normal.
Pemantauan berat badan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan
secara mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak. Menurut Soetjiningsih
(2003) bila grafik berat badan anak lebih dari 120% kemungkinan anak mengalami
obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan, apabila grafik berat badan di bawah
normal kemungkinan anak mengalami kurang gizi, menderita penyakit kronis, atau
kelainan hormonal.
Lingkar kepala juga menjadi salah satu
parameter yang penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan dan perkembangan
anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak dan cairan
serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal dapat dijumpai pada anak
yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor otak ataupun hanya merupakan variasi
normal. Sedangkan apabila lingkar kepala kurang dari normal dapat diduga anak menderita
retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi normal.
Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan
pendengaran juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang
lebih berat. Jenis gangguan penglihatan yang dapat diderita oleh anak antara
lain adalah maturitas visual yang terlambat, gangguan refraksi, juling,
nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat katarak, neuritis optik,
glaukoma, dan lain sebagainya. (Soetjiningsih, 2003). Sedangkan ketulian pada
anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi dan tuli sensorineural. Menurut
Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat disebabkan karena faktor prenatal dan postnatal.
Faktor prenatal antara lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang terjadi selama
kehamilan. Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan ketulian adalah
infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media.
2. Gangguan
perkembangan motorik
Perkembangan motorik yang lambat
dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab gangguan perkembangan
motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuskular. Anak dengan
serebral palsi dapat mengalami keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat
spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia.
Kelainan sumsum tulang belakang
seperti spina bifida juga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik.
Penyakit neuromuscular sepeti muscular distrofi memperlihatkan keterlambatan
dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik
selalu didasari adanya penyakit tersebut.
Faktor lingkungan serta kepribadian
anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik. Anak
yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti sering digendong atau
diletakkan di baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam mencapai
kemampuan motorik.
a.
Keterlambatan Kemampuan Berjalan
Rentang kemampuan anak bisa berjalan tanpa bantuan berada
dalam usia 8 bulan sampai dengan 18 bulan. Bila anak berumur lebih dari 18
bulan belum bisa berjalan, baru dikategorikan ‘delay’ atau terlambat, sehingga
diperlukan intervensi. Jadi, anak usia 15 bulan yang belum bisa berjalan,
dinyatakan “belum siap”, bukan dianggap terlambat, karena rentang toleransinya
cukup panjang. Namun jangan menganggap remeh dengan kondisi tersebut. Lebih
baik Anda melakukan deteksi awal mengenai “keterlambatan” tersebut supaya bisa
diantisipasi dan dicari jalan keluarnya. Penyebabnya adalah sebagai berikut:
1)
Kondisi kesehatan anak yang kurang
mendukung. Keterlambatan
anak mulai berjalan bisa disebabkan oleh gangguan neurologis, gizi buruk,
maupun penyakit seperti : riwayat kekurangan oksigen saat lahir, penyakit-penyakit
perinatal yang berat (sepsis, kerinikterus, meningitis), bayi lahir dengan
berat sangat rendah, bayi prematur, cerebal palsy, pasca kejang lama, penyakit
jantung bawaan, dan lain sebagainya.
2)
Faktor keturunan. Beberapa kasus menunjukkan orangtua
yang mempunyai riwayat terlambat berjalan akan menurun kepada anaknya.
3)
Ukuran kaki dan berat
badan anak. Anak dengan kaki yang pendek biasanya lebih cepat berjalan
daripada yang berkaki panjang. Semakin panjang kaki anak, biasanya jadi lebih
sulit menyeimbangkan badan.
4)
Pengalaman buruk waktu belajar
berjalan. Kecelakaan
yang mungkin terjadi saat belajar berjalan seperti tersandung hingga membentur
meja bahkan berdarah, bisa mengakibatkan anak trauma dan malas berlatih lagi.
Terlebih lagi jika ditambah dengan respon orangtua yang terlalu
mengkhawatirkannya.
5)
Bayi yang tidak dikelilingi
anak-anak lain. Hal
ini biasanya mengakibatkan anak jadi lebih lambat berjalan karena tidak ada
yang memberinya contoh (meski tidak selalu).
6)
Orangtua maupun lingkungan yang
overprotective. Rasa
sayang yang berlebihan dengan melarang anak untuk melakukan kegiatan yang
“menantang” karena khawatir jatuh atau terpeleset, membuat anak kehilangan
kepercayaan diri untuk mulai berjalan. Kebiasaan terlalu sering digendong dan
pemakaian baby walker yang berlebihan juga dapat membuat anak malas belajar
jalan.
Cara
Mengatasinya adalah sebagai berikut:
a)
Menatih dengan penuh kesabaran. Masa menatih (titah, bahasa
Jawa) merupakan masa yang membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra. Karena tangan
kita harus mendampingi kemanapun si kecil bergerak. Pada awalnya kita
menggunakan dua tangan untuk menatih, namun dengan bertahap kita lepas satu
tangan, hingga akhirnya kita lepas dia berjalan tanpa bantuan kita.
b)
Gunakan berbagai alat sebagai
bantuan. Kursi
plastik yang kokoh, meja kecil yang ringan, maupun galon air mineral yang tidak
terisi penuh bisa menjadi alat yang menarik untuk didorong-dorong anak.
c)
Pastikan lingkungan di sekitar
anak cukup aman. Hal
ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Seperti menyingkirkan
benda-benda yang mudah diraih dan mudah pecah.
d)
Lakukan dengan kegembiraan. Ambillah jarak dari si kecil
dengan memegang mainan atau benda yang menarik perhatiannya. Mintalah anak
untuk mengambilnya dan berikan pelukan hangat saat dia berhasil menjangkaunya.
Perlebar jarak untuk meningkatkan kemampuannya.
e)
Hindari baby walker. Faktor praktis dan bisa
ditinggal mengerjakan hal lain seringkali membuat orangtua berlebihan dalam
memanfaatkan baby walker. Padahal, hal seperti itu bisa menyebabkan anak jadi
malas berjalan ketika dilepas tanpa baby walker. Penggunaan baby walker tetap
harus dengan pengawasan karena terbukti pada beberapa kasus dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan seperti tergelincir di tangga, kamar mandi, maupun kolam
renang.
f)
Terus berikan semangat pada anak. Belajar berjalan merupakan
kombinasi dari latihan kemandirian, kepercayaan diri, pantang menyerah, dan
kesabaran.
g)
Konsultasikan dengan dokter
ahli jika
anak tidak juga menunjukkan kemajuan dalam kemampuan berjalan meskipun sudah
dilakukan stimulasi yang memadai.
3. Gangguan
perkembangan bahasa
Kemampuan bahasa merupakan
kombinasi seluruh system perkembangan anak. Kemampuan berbahasa melibatkan
kemapuan motorik, psikologis, emosional, dan perilaku (Widyastuti, 2008).
Gangguan perkembangan bahasa pada
anak dapat diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan
pendengaran, intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan,
maturasi yang terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga
dapat disebabkan karena adanya kelainan fisik seperti bibir sumbing dan
serebral palsi. Gagap juga termasuk salah satu gangguan perkembangan bahasa
yang dapat disebabkan karena adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara
jelas (Soetjingsih, 2003).
Berikut ini beberapa cara mengatasi
anak yang mengalami speech delay atau keterlambatan dalam kemampuan berbicara :
a.
Bacakan buku atau cerita bergambar sehingga anak dapat
menunjuk atau memberi nama benda-benda yang ia kenal.
b.
Gunakan bahasa yang sederhana ketika berbicara pada
anak.
c.
Mengoreksi ucapan yang salah dari anak. Misalnya ketika anak
mengatakan “Atit” saat mengutarakan rasa sakit, orang tua segera membenarkanya
dengan mengucapkan “Oh, sakit ya”. Usahakan untuk selalu mengulang kata-kata
yang diucapkan anak pada kita.
d.
Berikan pujian pada
anak ketika anak berbicara benar.
e.
Jangan abaikan anak dan selalu berikan respon terhadap apa
yang dikatakan anak.
f.
Jangan memaksa anak untuk berbicara karena hal ini hanya
akan membuat anak menjadi semakin tertekan.
g.
Berkonsultasi kepada tenaga ahli seperti dokter anak atau
ahli tumbuh kembang anak.
4. Gangguan
Emosi dan Perilaku
Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami
berbagai gangguan yang terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu
gangguan yang muncul pada anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila
mempengaruh interaksi sosial dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat
dialami anak adalah fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan
kecemasan setelah mengalami trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak
meliputi autisme serta gangguan perilaku dan interaksi sosial. Menurut
Widyastuti (2008) autism adalah kelainan neurobiologist yang menunjukkan
gangguan komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autisme ditandai dengan
terhambatnya perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar,
melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab.
a. Autisme
Istilah autisme berasal dari kata
“Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran,
sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri.
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang kompleks yang umumnya muncul
sebelum usia tiga tahun sebagai hasil dari gangguan neurologis yang
mempengaruhi fungsi normal otak. Gangguan ini mempengaruhi perkembangan dalam
area interaksi sosial dan keterampilan komunikasi. Anak penyandang autis
umumnya menunjukan kesulitan dalam komunikasi verbal dan nonverbal, interaksi
sosial, dan kegiatan bersosialisasi (misalnya bermain bersama). Mereka juga
menunjukan pola-pola tingkah laku yang terbatas, berupa pengulangan dan
stereotip (meniru). Seorang penderita autis mempunyai beberapa kesulitan yaitu
dalam hal makna, komunikasi, interaksi sosial, dan masalah imajinasi. Hal ini
menyebabkan penderita autis menemui banyak kesulitan dalam kehidupannya
sehari-hari. Anak autis bisa sangat tertarik pada sesuatu dan kemudian
asyik sendiri pada dunianya. Akibatnya, anak autis cenderung menarik diri dari
lingkungan sekitarnya. Adapun penyebabnya
adalah sebagai berikut :
1.
Permasalahan pada awal
perkembangan seorang anak. Anak penyandang autis mengalami masalah kesehatan yang
lebih banyak selama masa kehamilan, pada saat dilahirkan, dan segera setelah
dilahirkan, daripada anak yang bukan penyandang autis.
2.
Pengaruh genetik. Adanya gangguan gen dan
kromosom yang ditemukan pada studi terhadap keluarga dengan anak kembar
menunjukan peran yang besar dari faktor genetik sebagai penyebab dari autis.
3.
Abnormalitas otak. Meskipun tidak diketahui
tanda-tanda biologis untuk autis, penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli
menunjukan bahwa gambaran otak anak penyandang autis berbeda dengan gambaran
otak anak normal.
Cara
Mengenali Gejalanya.
Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mengetahui gejala autis, salah satunya dengan metode yang
dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Orang tua
harus mengamati 6 pertanyaan penting berikut:
a. Apakah anak Anda tertarik pada
anak-anak lain?
b. Apakah anak Anda dapat menunjuk
untuk memberitahu ketertarikannya pada sesuatu?
c. Apakah anak Anda pernah membawa
suatu benda untuk diperlihatkan pada orangtua?
d. Apakah anak Anda dapat meniru
tingkah laku anda?
e. Apakah anak Anda berespon bila
dipanggil namanya?
f. Bila Anda menunjuk mainan dari jarak
jauh, apakah anak anda akan melihat ke arah mainan tersebut
Bila
jawaban anda TIDAK pada 2 pertanyaan atau lebih, maka sebaiknya berkonsultasi
dengan profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang
autisme. Karakteristik dari penyandang autis banyak sekali ragamnya
(sepektrumnya sangat luas) sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah
dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis,
ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan
ahli profesional lainnya dibidang autis. Diagnosis yang paling baik adalah
dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah
laku dan tingkat perkembangannya. Orang tua harus peka dengan perkembangan anak
sejak lahir, dan melaporkan kepada dokter untuk setiap keterlambatan dan
gangguan dalam perkembangan perilakuknya. Cara Mengatasinya:
a.
Modifikasi perilaku dengan bantuan
tenaga profesional. Misalnya
dengan pendekatan ABA (Applied Behavioral Analysis) untuk menguasai
keterampilan yang diperlukan dalam lingkungan, terapi integrasi sensori untuk
menghadapi stimulasi sensori, dan metode pendekatan yang hangat dan akrab untuk
membangun hubungan dengan anak sebagai individu dan untuk membantu memperbaiki
proses perkembangan anak melalui bahasa tubuh, kata-kata, serta media bermain
b.
Sarana pendukung dan
kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan orang tua diluar waktu-waktu terapi. Contohnya seperti : pendukung
visual agar anak lebih mudah berkomunikasi, mengutarakan keinginan, dan
membantu anak memahami kehidupan. Selain itu, dengan menunjukkan objek secara
nyata pada anak juga dapat membantu anak mengembangkan pemahaman tentang waktu
dan pentingnya menghargai lingkungan.
c.
Berenang, berkuda, naik sepeda, sepatu roda, atau naik turun
tangga. Kegiatan-kegiatan tersebut sejalan dengan prinsip terapi integrasi
sensori.
d.
Berinteraksi dengan anak dalam situasi bermain yang
melibatkan sentuhan dan kontak mata yang memadai.
e.
Terapi wicara (dibantu dokter dan
terapis)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pertumbuhan merupakan suatu proses
perubahan fisik (anatomis) yang ditandai dengan bertambahnya ukuran berbagai
organ tubuh, karena adanya pertambahan dan pembesaran sel-sel. Sedangkan
perkembangan, adalah suatu proses bertambahnya kemampuan (skill) dalam stuktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan,
sebagai hasil dari proses pematangan. Pertumbuhan terjadi secara simultan
dengan perkembangan sehingga pada anak-anak proses tersebut dikenal dengan
sebutan tumbuh kembang anak. proses tumbuh kembang anak berlangsung secara
teratur, saling berkaitan, dan berkesinambungan.
Terdapat enam aspek perkembangan yakni
aspek motorik kasar, motorik halus, kognitif, bahasa, sosial, dan aspek
emosional. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia dini melewati
berbagai tahapan. Di mana antara tahapan yang satu dengan yang lainnya saling
mempengaruhi untuk kehidupan selanjutnya. Selain beberapa tahapan perkembangan
di atas kita juga perlu mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi proses
tumbuh kembang anak.
Deteksi dini penting dilakukan pada
anak. hal ini diperlukan untuk memberikan penanganan dan pencegahan dini
apabila anak mengalami gangguan tumbuh kembang kembang yang tidak sesuai dengan
anak seusianya.
Daftar
Pustaka
Aisyah, Siti dkk. 2008. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan
Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Desni. 2012. Psikologi Perkembangan dalam Pendidikan.
Pontianak: Fahruna Bahagia Press.
Soetjiningsih. 2003. Perkembangan
Anak dan Permasalahannya. Jakarta: EGC.
Komentar
Posting Komentar