GLOBALISASI : PELUANG DAN ANCAMAN MULTIKULTURALISME
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Memasuki milinium ketiga ini kita
disibukkan dengan istilah globalisasi, sebuah fenomena sosial yang tidak dapat
dibendung lagi yang mana masyarakat sekarang tengah menikmati kehidupan dalam
era tersebut.
Secara umum globalisasi adalah sebuah babakan baru dalam proses
perkembangan bangsa. Globalisasi menyangkut seluruh aspek penting
kehidupan yang akan menciptakan tantangan, perubahan, dan permasalahn yang
harus dijawab serta dipecahkan untuk memanfaatkan globalisasi dalam kepentingan
kehidupan. Proses pesatnya arus globalisasi ditandai dengan semakin
berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang merupakan suatu penggerak
globalisasi itu sendiri.
Mengenai fenomena globalisasi sudah
banyak orang membicarakan. Globalisasi diibaratkan sebagai pisau yang bermata
ganda sebagai penghancur dan keberkahan. Manusia hidup
dalam reliatas yang plural, hal yang sama juga pada masyarakat Indonesia yang
multikultur. Corak masyarakat Indonesia adalah ber-Bhineka Tungal Ika, bukan
lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya, melainkan keanekaragaman
kebudayaan yang berada dalam masyarakat Indonesia dimana lebih menekankan
kanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Berdasarkan penjabaran di atas
bagaimana kehidupan masyarakat multikultur seperti di Indonesia yang hidup
ditengah-tengah arus globalisasi seperti sekarang ini ?
B.
Rumusan Masalah
1. Apa itu globalisasi ?
2. Apa yang dimaksud dengan
multikulturalisme ?
3. Bagaimana
pengaruh globalisasi terhadap masyarakat multikultur ?
C. Tujuan
1.
Mengetahuikonsep
globalisasi
2. Mengetahui pengertian dari masyaakat
yang multikultut
3. Mengetahui pengaruh
globalisasi bagi kehidupan masyarakat multikultur.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep Globalisasi
Globalisasi adalah sebuah babakan baru dalam proses perkembangan bangsa. Konsep
globalisasi dapat diartikan sebagai pengglobalan atau penyatuan seluruh aspek
kehidupan di dunia ini. Penyatuan ini dilakukan melalui upaya penyeragaman
yang mendunia meliputi seluruh negara yang ada. Ketika suatuistilah baru
menjadi populer, hal ini seringkali meliputisuatu perubahan penting sebagai bagian
dari dunia ini. Ide baru ini dibutuhkan untuk menggambarkan kondisi baru.
Sebagai contoh, ketika seorang filsof, Jeremy Bentham mengistilahkan
“internasional” pada tahun 1780, dianggap sebagai suatupencerahan, dari apa
yang merupakan pendalaman dari kenyataan hidup keseharian,
yaitu berkembangnya negara/bangsa dan transaksi yang terjadimelintasi batas
diantara masyarakat di dunia. Adapun problematika yang menjadi tantangan global
terhadap eksistensi jatidiri bangsa adalah sebagai berikut:
1.
Pluralitas
masyarakat Indonesia tidak hanya berkaitan dengan budaya,tetapijuga dimensi
sosial, politik, dan ekonomi masyarakat sehinggaprosesglobalisasi informasi
membawa dampak yang sangat kompleks.
2.
Salah satu
dampak globalisasi informasi bagi bangsa Indonesia yaitu dimulai dari timbulnya
krisis moneter yang kemudian berkembang menjadi krisismultidimensi. Dalam waktu
yang relatif singkat Indonesia mengalami empat kalipergantian pemerintahan.
Tidak hanya itu, di era reformasi muncul berbagaimacam kerusakan dan
pemberontakan yang disertai isu anarkis, SARA,
dan separatisme.
dan separatisme.
3.
Kemajuan
teknologi informasi telah menjadikan jarak spasial semakin menyempit dan
jarak waktu semakin memendek. Akibatnya bagi bangsa Indonesia yang
berorientasi pada negara-negara maju, dalam waktu relatif singkat dapat
beradaptasi terutama
di bidang teknologi,
ekonomi, sosial,dan budaya.
Akhirnya, tidak menutup kemungkinan timbul kehidupan
sosial budaya dalam
kondisi
persaingan yang sangat tajam, rasa solidaritas semakin menipis, manusia seolah
tidak begitu peduli lagi dengan kehidupan orang lain. Bangsa Indonesia
yang dulu dipandang sebagai masyarakat yang kuat
solidaritasnya, sekarang menjadi masyarakat yang mementingkan diri sendiri, egoisme semakin menonjol, yang mewarnai kehidupan masyarakat.
solidaritasnya, sekarang menjadi masyarakat yang mementingkan diri sendiri, egoisme semakin menonjol, yang mewarnai kehidupan masyarakat.
B.
Multikulturalisme
Pengertian
Multikulturalisme
Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara
etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya),
dan isme (paham/aliran). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan
akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaan
masing-masing yang unik. Multikulturalisme adalah sebuah ideology dan sebuah
alat atau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Sebagai
sebuah idea tau ideology, multikulturalisme terserap ke dalam berbagai
interaksi yang ada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan manusia yang
tercakup dalam kehidupan sosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, kehidupan
politik, dan berbagai kegiatan lainnya di dalam masyarakat yang bersangkutan.
Multikulturalisme menurut Irwan adalah sebuah paham
yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan budaya-budaya local dengan
tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya yang ada. Konsep
multikulturalisme di sini tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman
suku bangsa atau kebudayaan yang menjadi cirri masyarakat majemuk (plural
society). Karena, multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam
kesederajatan.
C. Masyarakat
Multikultur di Era Globalisasi
Globalisasi sering disebut sebagai peluang dan ancaman
multikulturalisme.Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kesiapan bangsa ini dalam
memasuki era baru itu. Apakah secara psikologis anak-anak bangsa ini telah
benar-benar dipersiapkan untuk menyongsong datangnya zaman industtrialisasi dan
revolusi informasi dengan segala konsekuensinya ?sebab, seperti pernah
diungkapkan Prof. Sartono Kartodirjo di depan peserta Lokakarya Nasional
Manajemen SDM di Hotel Ambarukmo Yogyakarta (kompas, 5/3/88), proses
industrialisasi dengan penerapan teknologi modern memaksa manusia atau
masyarakat melakukan berbagai adaptasi agar penghayatan teknologi serta
pemakaian produknya dapat berjalan lancer. Kalaupun ada hambatannya, itu karena
struktur pribadi dan system nilai.
Sikap mental yang irasional, orientasi kepada status,
prinsip partikularisme, kesemuanya itu merupakan hambatan. Kata Prof. Sartono
lebih lanjut, untuk mendukung proses industrialisasi, dituntut penghayatan
nilai-nilai baru yang lebih relevan bagi proses rasionalisasi dan produktivitas
tanpa terjebak dalam proses institusionalisasi ketat sehingga mengakibatkan
dehumanisasi. Dengan demikian, yang perlu diupayakan adalah mempersiapkan
anak-anak bangsa ini menjadi manusia yang berkualitas dengan kepribadian yang
benar-benar cocok dengan dinamika industrialisasi.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh besar bagi
kehidupan suatu negara termasuk negara kita Indonesia.Pengaruh tersebut dibagi
menjadi dua yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif.
1. Pengaruh positif globalisasi terhadap masyarakat Indonesia.
Dilihat dari aspek globalisasi politik, pemerintahan dijalankan
secara terbuka dan demokratis, karena pemerintahan adalah bagian dari suatu
negara. Jika pemerintahan dijalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya
akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa
jati diri terhadap negara menjadi meningkat dan kepercayaan masyarakat akan
mendukung yang dilakukan oleh pemerintahan.
Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional,
meningkatkan kesempatan kerja yang banyak dan meningkatkan devisa suatu negara.
Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang
dapat menunjang kehidupan nasional dan akan mengurangi kehidupan miskin.
Dari aspek globalisasi sosial budaya, kita dapat meniru pola
berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin serta Iptek dari
negara lain yang sudah maju untuk meningkatkan kedisplinan bangsa yang pada
akhirnya memajukan bangsa serta akan mempertebal jati diri kita terhadap bangsa. Serta kita juga dapat bertukar
ilmu pengetahuan tentang budaya suatu bangsa.
2. Pengaruh negatif globalisasi terhadap masyarakat Indonesia.
Aspek politik, Globalisasi mampu meyakinkan
masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran.
Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke
ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya jati diri bangsa akan
luntur dan tidak mungkin lagi bangsa kita akan terpecah belah.
Aspek Globalisasi ekonomi, hilangnya rasa
cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (mainan,
minuman, makanan, pakaian, dll) membanjiri Indonesia. Dengan hilangnya rasa
cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya jati diri bangsa
kita. Maka hal ini akan menghilangkan beberapa perusahaan kecil yang memang
khusus memproduksi produk dalam negeri.
Masyarakat kita khususnya anak muda banyak
yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia dimana dilihat dari
sopan santun mereka yang mulai berani kepada orang tua, hidup metal, hidup
bebas, dll. Justru anak muda sekarang sangat mengagungkan gaya barat yang sudah
masuk ke bangsa kita dan semakin banyak yang cenderung meniru budaya barat yang
oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang
tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam
globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan yang dapat
mengganggu kehidupan nasional bangsa. Serta menambah angka pengangguran dan
tingkat kemiskinan suatu bangsa.
Munculnya sikap individualisme yang
menimbulkan ketidakpedulian sesama warga. Dengan adanya individualisme maka
orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa. Padahal jati diri bangsa kita
dahulu mengutamakan Gotong Royong, tapi kita sering lihat sekarang contohnya
saja di perumahan / komplek elit, mereka belum tentu mengenal sesamanya. Dari
hal tersebut saja sudah tercermin tidak adanya kepedulian, karena jika tidak
kenal maka tidak sayang.
3.
Strategi menghadapi tantangan globalisasi
Nils A. Shapiro, editor Gallery magazine, berpendapat bahwa
ada enam kiat sukses menghadapi tantangan globalisasi:
a.
Perencanaan yang cermat (carefull
planning)
Dalam
kehidupan yang semakin kompetitif, perencanaan yang cermat merupakan suatu
keharusan dan keniscayaan.Dengan perencanaan yang cermat, segala sesuatunya
dapat diperhitungkan sebelumnya, dank arena itu pula dapat dilakukan antisipasi
terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi.
b.
Latihan dan pengalaman (training and
experience)
Latihan
dan pengalaman akan meningkatkan professionalism seseorang dalam berbagai
bidang kehidupan. Seseorang dikatakan professional di bidangnya
setidak-tidaknya harus memiliki keahlian, komitmen dan keahlian yang relevan dengan bidang
pekerjaannya.
c.
Bersedia belajar dari orang lain (willingness
to lern from others)
Sumber
belajar tidaklah terbatas pada guru dalam arti pengajar formal di sekolah,
namun kita juga dapat belajar dari orang lain karena kehidupan orang lain
dapat menjadi cermin yang baik bagi siapa pun yang bersedia berkaca.
d.
Bersedia bekerja sama selama dan sukses diperlukan (commitment to working as long and as hard as necessary). Kerja keras adalah cirri utama orang sukses. Peluang dan
kesempatan hanya akan dating kepada pekerja keras.
e. Tabah menghadapi kekecewaan dan
kemunduran (courage to overcome
disappointment and setbeacks). Kalau orang dapat menerima kekecewaan secara
wajar, hidupnya akan lebih menyenangkan. Sebenarnya, kegagalan bukanlah hanya
memiliki sisi negtif semata jika saja dihadapi dengan arif dan cerdas. Kegagalan dapat dianggap sebagai
benih keberhasilan.
f. Kemampuan bersikap jujur (ability to be honest)
Dalam
bidang usaha, kepercayaan memiliki peran penting. Begitu kepercayaan dapat diperoleh,
usaha dengan lebih mudah dapat dikembangkan. Sebaliknya, jika kepercayaan
diabaikan, pekerja atau pengusaha tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran dan
kepercayaan yang diberikan, maka yang akan terjadi adalah krisis kepercayaan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Globalisasi
merupakan suatu keberkahan bagi kehidupan namun juga sebagian masyarakat menganggap sebagai penghancur kehidupan
ini. Akan tetapi masyarakat itu sendiri yang menciptakannya seiring dengan
perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin canggih.untuk
mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh globalisasi diperlukan adanya suatu
strategi, dimaksudkan agar tidak terjadi ketimpangan.
DAFTAR PUSTAKA
Mahfud,
Choirul. 2013. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Mahfud,
Choirul. 2011. Pendidkan Multikultural.
Yokyakarta : Pustaka pelajar
terimakasih sudah berbagi :)
BalasHapus